Selamat Tinggal, 2019

By Roem Widianto - Desember 31, 2019


Assalamu'alaikum.

Tahun 2019 begitu berkesan bagi rakyat Indonesia. Setuju gak, kawan? Karena 2019 adalah saat di mana momen yang fenomenal terjadi. Yup, benar sekali, 2019 ada pemilihan umum. Sebenarnya yang dipilih banyak. Ada  pemilihan anggota DPD, DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, tapi entah kenapa yang paling panas adalah pemilihan presiden dan wakil presiden.

Banyak sekali yang fanatik mendukung paslon ini, di sisi lain yang fanatik mendukung Paslon itu pun juga sama banyaknya. Saking fanatiknya, ada beberapa kejadian saling benci karena beda pilihan. Orang jadi benci sama temannya, benci dengan tetangganya, benci dengan sahabatnya, atau jangan-jangan ada yang benci dengan bapak ibunya. Nah loh! Beda pilihan itu normal, wajar, dan biasa. Seperti halnya ada yang memilih makan bubur diaduk lebih dulu, ada juga yang memilih makan bubur tidak diaduk sama sekali. Kenapa beda pilihan harus diributkan? Toh kalau kita sakit, yang jenguk kita adalah kerabat-kerabat kita, bukan Paslon ini maupun Paslon itu.

Kita semua tau, Paslon ini adalah orang-orang baik, Paslon itu juga orang-orang baik. Dua-duanya adalah pasangan orang-orang pintar dan cerdas. Dua-duanya memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dua-duanya sama-sama dianggap pantas menjadi presiden dan wakil presiden. Tapi untuk menentukan siapa yang jadi presiden dan wakil presiden dilihat dari hasil pemilihan umum. Dan hasil pemilihan umum itu sudah diumumkan, bahkan presiden dan wakil presidennya sudah diangkat. Jadi yang pilihannya berhasil maju menjadi presiden dan wakil presiden jangan jumawa, ya. Sedangkan yang pilihannya belum bisa maju menjadi presiden dan wakil presiden harus ikhlas dan legowo. Toh dua-duanya sekarang sama-sama sudah menjadi pemimpin, yang satu jadi pemimpin negara, yang satunya menjadi pemimpin di bidang pertahanan. Dua-duanya saling bekerjasama. Dan dua-duanya memiliki hubungan baik. Jadi mari kita baikan, seperti halnya pemimpin-pemimpin kita yang selalu memiliki hubungan yang bersahabat dan baik.

Gak jelas banget, ya, aku yang awam dalam dunia politik dan hampir-hampir apatis (karena dulu bingung pilih capres cawapres yang mana, karena dua-duanya sama-sama bagusnya) ngomongin masalah ini di momen perpisahan dengan 2019. Hal ini karena aku masih menjumpai ada beberapa orang yang masih saja memaki-maki pemimpin-pemimpin hebat ini, padahal pemilu sudah selesai. Gak hanya memaki para pemimpin, tapi juga memaki pemilih-pemilihnya, yang tidak lain dan tidak bukan juga kerabatnya sendiri. Lho lho lhoooooo.. Kritis dalam dunia perpolitikan boleh. Tapi sebaiknya jangan memaki. Jadi please ya, rek, kita tinggalkan 2019 dengan damai, kita tinggalkan saling benci. Mari kita menyambut 2020 dengan mulai membangun persahabatan yang baik, tanpa ada embel-embel misuh.

Selain itu, ada satu hal lain yang berkesan bagiku di tahun 2019. Yaitu kehilangan anakku. Lho, kehilangan anak kok berkesan?? Hei, hei, aku gak senang dengan kejadian itu. Bahkan aku sampai sekarang dan bisa jadi seumur hidupku merasa sedih jika teringat meninggalnya anakku. Kejadian itu menjadi titik terendah dalam hidupku. Tapi melalui kejadian itu aku belajar banyak hal.


Dengan adanya kejadian meninggalnya anakku, aku jadi tahu siapa yang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku murni apa adanya. Aku tahu siapa yang terus menopangku agar aku tetap tegar dan tidak terlalu terbawa arus kesedihan. Aku juga tahu seperti apa pedihnya, sakitnya, sedihnya kehilangan orang yang paling aku sayangi. Dengan begitu aku yang dulu cuek dan tidak pedulian menjadi lebih peka, lebih sensitif, lebih berempati dengan orang lain, serta lebih mudah bersyukur dengan apa yang aku dapat dan miliki sekecil apapun itu.

Selain itu aku juga sadar, kalau hidup itu tidak kekal. Semua orang pasti meninggal. Orang tua bisa meninggal karena suatu alasan, dan anakku yang berusia lima hari pun juga meninggal dengan suatu alasan tersendiri. Kematian tidak mengenal usia. Tinggal kita-kita yang hidup ini menunggu giliran untuk berjumpa momen itu. Karena sudah menyadari hal itu, aku mulai berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi sebab aku ingin sekali kelak aku bisa ke surga dan hidup bahagia dengan anakku di sana. Atau paling tidak jika aku tak ada nanti, aku meninggalkan kesan yang baik untuk orang yang kutinggalkan.

Selamat tinggal 2019. Denganmu banyak hal yang berkesan yang tejadi, entah itu yang menyenangkan, yang menjengkelkan, atau yang menyedihkan. Terimakasih juga, karena dengan 2019 banyak hal yang aku dan mungkin kalian semua pelajari, baik itu melalui hal yang kita sukai atau bahkan melalui hal yang kita benci. Semoga setelah 2019 kita semua bisa menjadi lebih baik lagi. Semoga setelah 2019 kita semua bisa bersahabat dengan baik walaupun kita berbeda, bisa berbeda domisili, berbeda agama, berbeda suku, berbeda bentuk rambut, berbeda warna kulit, atau berbeda dalam hal yang lain. Mari kita sambut 2020 dengan semangat Bhineka Tunggal Ika yang membara ya.

  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Kalau soal politik, saya termasuk yang nggak begitu ikut beritanya mba. Karena dari awal sudah tau mau memilih siapa, yasudah nggak mau pusing baca-baca perselisihannya. Takut jadi kebawa emosi soalnya :3

    Tapi herannya di kota saya tinggal nggak begitu berasa panasnya politik seperti di Jakarta, mungkin karena lebih ke kota wisata jadi fokusnya ke pengembangan wilayah. Hihi. However, siapapun yang akhirnya terpilih, yang penting doa saya sama, semoga bisa membawa Indonesia ke kemajuan yang lebih baik :D

    Btw, untuk kehilangan yang mba alami, saya hanya bisa bantu mendoakan semoga anak mba ditempatkan di sisi terbaik. Dan semoga mba bisa dikuatkan. Semangat mba :>

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kan, mbak. Kebanyakan orang sebenarnya lebih suka kedamaian daripada pertengkaran yang dipicu oleh hal yang tidak perlu diperdebatkan. Semoga saja 2020 mereka yang ribut-ribut mulai lupa tentang hal yang diributkan itu. Hehehe.

      Terima kasih untuk doa dan semangatnya ya, Mbak.

      Hapus
  2. Wah, mungkin karena memang saya jarang mau bahas politik, jadinya kok semacam lupa ya kalau tahun 2019 ini memang politik sedang memanas hahaha.
    Saya malah sibuk memikirkan apa yang terjadi di saya selama tahun 2019 ini.
    Sungguh nano-nano, namun bersyukur Allah masih memberikan kesempatan untuk bisa menikmati dunia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sebenarnya masih lebih penting ngurusin urusan pribadi, Mbak, daripada ribut karena hal yang tidak perlu diributkan. Hehehe.

      Hapus
    2. Atau lebih tepat saya terlalu galau sehingga egois nggak mikir yang lainnya.
      Tahun ini saya nggak boleh terlalu galau lagi, saya kudu bangkit untuk fokus ke blog hahaha

      Hapus
    3. Nah iya. Itu lebih bermanfaat, Mbak. Bisa sambil menambah pundi-pundi rupiah. 😂

      Hapus
    4. Aamiin, semoga lebih mendatangkan manfaat positif dan mendatang duit, syukur-syukur bisa bangun blog dan nantinya bisa jadi modal saya di hari tua, cita-cita saya, semoga nanti di hari tua, saya bisa dengan bahagia tanpa bergantung pada siapapun, tanpa merepotkan siapapun, aamiin :)

      Hapus
    5. Aamiin.
      Semoga cita-citanya tercapai ya, Mbak Rey.🙏

      Hapus
    6. Aamiin, semoga kita semua bisa ngeblog dengan konsisten yaaa, saya sejak 2 tahun lalu ngeblog, satu persatu teman-teman yang rajin bewe, jadi nggak update lagi, kan sedih jadinya hiks

      Hapus
    7. Kalau aku agak takut-takut gak bisa konsisten nulis, Mbak Rey. Sering banget nemu ide, tapi untuk nulisnya bingung menyusun kata-katanya.😂

      Hapus
  3. saya membenci mereka yang saling membenci karena fans garis keras ke salah satu paslon mbak, padahal kan bisa damai2 aja. Mau pilih si A atau si B ya sudah, ga pelu sampe ribut.

    InsyaAllah mbak akan menjadi ibu yang tegar dan luar biasa. Tetap semangat mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul itu, Mas. Sebenarnya kan bisa damai-damai aja kan ya.

      Terimakasih atas doa dan semangatnya, mas.

      Hapus
  4. "Meninggalkan kesan yang baik untuk orang yang kutinggalkan"

    Deep meaning. Setuju sama kalimat mba diatas. Semangat terus ya mba! Tuhan selalu bersama kita :')

    BalasHapus
  5. yaAllah, mbaa hebat bisa tetap tegar dan sabar ditinggal anak. semangat terus mba, semoga tahun 2020 banyak kebahagiaan yang datang, selalu diberi kesehatan ya mbaa.. Amiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terimakasih atas doanya, Mbak Tia.🙏

      Hapus
  6. Semua yang terpilih memunyai tanggungjawab yang berat untuk urusan negaranya. Tinggal kita sebagai warganya ikut mendukung dengan baik. Begitu bukan? HEhehehe ... Tetap semangat ya, ada banyak hikmah atas kehilangan seseorang.

    BalasHapus
  7. Setuju, Mbak. Kita-kita mah setuju dan dukung aja program pemerintah. Yang penting pro rakyat. Hehehe.

    Iya, mbak. Terimakasih atas semangatnya.

    BalasHapus
  8. Semoga tahun 2019 yang sudah kita lalui banyak manfaat untuk kita menuju di era tahun 2020 sekarang ini.

    Dan tentunya jadikan tahun 2020 lebih baik dari tahun sebelumnya..😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas. Semoga saja 2020 kita semua bisa berkembang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. 🙏

      Hapus
  9. Turut prihatin yah mba. Allah lebih sayang anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap semangat mba... ayo ajak suami lebih giat ibadah bareng ;)

      Hapus
    2. Siap, Bang. Aku dan suami semangat terus pokoknya.😄

      Hapus